Mengapa Anak Muda Sengaja Menghabiskan Uang? Membedah Fenomena "Doom Spending" yang Sedang Viral
Mengenal apa itu fenomena doom spending yang sedang viral di kalangan Gen Z dan Milenial, penyebab psikologis, serta dampaknya bagi masa depan finansial.
Sensei Blog
20 May 2026, 06:48 · Dibaca 340 kali
Pernahkah Anda merasa cemas melihat situasi ekonomi dunia, harga rumah yang semakin tidak masuk akal, atau ketidakpastian masa depan, lalu justru melampiaskannya dengan membeli kopi mahal, baju baru, atau tiket konser? Jika ya, Anda mungkin sedang terjebak dalam tren psikologi finansial yang sedang hangat dibicarakan di media sosial saat ini: Doom Spending.
Fenomena ini sedang melanda generasi muda (Gen Z dan Milenial) secara global maupun domestik, di mana stres akibat tekanan ekonomi justru direspons dengan perilaku belanja yang impulsif.
Doom spending adalah perilaku berbelanja atau menghabiskan uang secara impulsif untuk membeli barang-barang kemewahan kecil (small luxuries) sebagai mekanisme koping (coping mechanism) atas rasa cemas, stres, dan keputusasaan terhadap masa depan ekonomi atau situasi global yang dinilai tidak menentu.
Secara umum, berikut adalah 5 penyebab utama mengapa fenomena doom spending marak di kalangan anak muda saat ini:
1. Ilusi Keputusasaan Masa Depan: Banyak anak muda merasa tujuan finansial besar—seperti membeli rumah atau tanah—sudah berada di luar jangkauan mereka. Akibatnya, mereka memilih menghabiskan uang untuk kepuasan instan hari ini.
2. Kompensasi Kesehatan Mental: Berbelanja memberikan lonjakan dopamin instan yang berfungsi sebagai penenang sementara dari stres kerja, kecemasan sosial, atau paparan berita buruk yang masif di internet.
3. Faktor "FOMO" dan Estetika Media Sosial: Paparan konstan terhadap gaya hidup mewah, barang-barang estetik, dan tren pakaian yang silih berganti di media sosial menciptakan tekanan sosial untuk ikut mengonsumsi agar dianggap relevan.
4. Kemudahan Akses Paylater dan Kredit Instan: Kehadiran fitur fintech yang menawarkan pembayaran tunda secara instan membuat batas psikologis dalam mengeluarkan uang menjadi kabur dan sangat mudah dilewati.
5. Kebiasaan Memanjakan Diri (Self-Reward) yang Berlebihan: Batasan antara menghargai diri sendiri dengan pemborosan yang tidak terencana sering kali menjadi bias akibat glorifikasi budaya treat yourself di ruang digital.
Dampak Jangka Panjang dan Cara Mengatasinya
Meskipun membeli barang mewah kecil memberikan kebahagiaan sesaat, doom spending yang tidak terkontrol dapat mengikis fondasi finansial masa depan secara perlahan.
Untuk keluar dari siklus ini, para ahli keuangan menyarankan penerapan Trik Aturan 48 Jam. Jika Anda melihat barang yang sangat ingin Anda beli secara online, jangan langsung memasukkannya ke keranjang pembayaran. Tunggulah selama 48 jam. Jika setelah dua hari keinginan tersebut hilang atau mereda, itu tandanya pembelian tersebut hanyalah letupan emosi sesaat, bukan kebutuhan yang mendesak.
Doom spending adalah sinyal nyata bahwa tantangan finansial modern tidak hanya berkaitan dengan angka di rekening, melainkan juga kesehatan mental. Memahami akar kecemasan Anda dan mulai membangun batasan belanja yang bersih, disiplin, namun tetap elegan adalah langkah utama untuk menyelamatkan masa depan finansial Anda tanpa harus kehilangan kebahagiaan menikmati hidup.